Anarkisme
Atas Dasar Agama
Oleh
Sara Agustriana
Akhir-akhir ini masalah tindakan
kekerasan di Indonesia menjadi masalah bangsa yang cukup mengkhawatirkan.
Seolah-olah semua persoalan bisa diselesaikan dengan jalan kekerasan,
sedikit-sedikit main pukul, main hakim sendiri, kroyokan dan tindakan “sok
jagoan” lainnya.
Bahkan kekerasan berlatar agama pun
terjadi di negeri yang pluralisme ini. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan
kekerasan merupakan sesuatu yang wajar dilakukan di Indonesia.
Menurut Wignyosoebroto pengertian
kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah
orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atau
sejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau yang tengah dipandang berada
dalam keadaan lebih lemah).
Anarkisme
atas dasar agama
Baru-baru ini kekerasan yang
mengatasnamakan agama dan suku genjar terjadi di Indonesia. Ormas-ormas yang
merasa diri mereka paling benar melakukan aksi main hakim sendiri. Akibatnya masyarakat
banyak mengeluhkan ormas keagamaan yang brutal dalam menegakkan keyakinannya.
Aksi anarkis salah satu ormas yaitu FPI (Forum Pembela Islam) yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik
yaitu penentangan terhadap kedatangan Lady Gaga. Mereka tidak akan tinggal diam
jika konser tetap diadakan. Ormas tersebut menolak konser Lady Gaga karena
syair lagunya, penampilannya yang seronok dan dinilai membawa aliran setan.
Mereka menilai Lady Gaga tidak sesuai dengan norma agama mereka. Tetapi jika
kita telaah, apakah penyanyi-penyanyi dangdut Indonesia menggunakan pakaian
yang tidak seronok saat manggung? Dan apakah mungkin, jika kita menonton konser
Lady Gaga yang hanya satu hari mampu membuat kita bertindak seperti setan?
Aksi anarkis lainnya yang dilakukan
ormas-ormas yang mengatasnamakan agama yaitu pembubaran secara paksa diskusi
buku yang dilakukan oleh Irshad Manji di Salihara. Aksi anarkis mereka
mengakibatkan kerusakan fasilitas yang terdapat di gedung Salihara. Tidak hanya
itu, mereka juga menyerang dan melukai sejumlah anggota diskusi. Alasan mereka
berunjuk rasa yang berakibat tindakan anarkis yaitu karena mereka menilai buku Allah, Liberty and Love yang ditulis
oleh Irsyad Manji berisi pengajaran tentang percintaan antarsesama jenis
kelamin.
Jika diingat-ingat lagi, banyak sekali
aksi anarkis lainnya yang dilakukan ormas-ormas tersebut. Penyerangan jamaah Ahmadiyah di cikeusik, massa FPI memukul Aktivis Perdamaian SEJUK
(Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) di HKBP Filadelfia Bekasi, puluhan anggota
ormas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mengeroyok seniman Yogyakarta,
Bramantyo Prijosusilo. Padahal saat itu Bramantyo hendak menggelar pertunjukkan
seni sebagai bentuk keprihatinan terhadap radikalisme, anarkisme, intimidasi
dan kekerasan atas dasar agama. Dan masih banyak aksi anarkis lainnya.Polda
Metro Jaya mencatat, dalam 1,5 tahun terakhir paling tidak ada 12 kasus
kekerasan atau perusakan yang melibatkan anggota atau simpatisan ormas FPI, PBR
dan PP.
Dari begitu banyaknya aksi kekerasan
yang mengatasnamakan agama atau suku menimbulkan kesan pembiaran oleh
pemerintah. Pemerintah seolah-olah takut dan nurut kepada ormas-ormas tersebut.
Polisi yang seharusnya mengamankan aksi anarkis, tetapi malah seolah-olah
menyetujui aksi pembubaran atau penyerangan tersebut. Pemerintah dinilai lemah
terhadap kelompok tersebut.
Memotong
tindakan anarkis
Tindakan anarkis yang terjadi di negeri ini
dapat dipotong sampai keakar-akarnya. Ada cara lain selain tindakan anarkis
untuk menyelesaikan suatu masalah. Masalah tempat ibadah, masalah cikeusik,
masalah Irshad Manji dan Lady Gaga dapat diselesaikan dengan jalur diskusi.
Jalur dikusi dapat membuka pikiran-pikiran kita sehingga penyelesaiaan bisa
didapatkan tanpa merugikan siapa pun. Penyelesaiaan dengan cara baik-baik akan
terlihat lebih indah daripada dengan tindakan anarkis. Apapun alasannya, segala
bentuk tindak kekerasan dan anarkisme yang dilakukan kelompok masyarakat
tertentu, tidak bisa dibenarkan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan
adanya kekerasan terhadap kelompok yang lain. Negara tidak boleh kalah dalam
menghadapi aksi-aksi anarkisme. Untuk pemerintah sendiri juga harus bersikap
tegas dan tidak boleh ragu dalam menghadapi pelaku anarkis. Dan sebaiknya
perdamaian harus terus digalangkan agar kekerasan bukan lagi sesuatu yang wajar
di negeri ini.
