Rabu, 13 Juni 2012

Artikel Opini


Anarkisme Atas Dasar Agama
Oleh Sara Agustriana

Akhir-akhir ini masalah tindakan kekerasan di Indonesia menjadi masalah bangsa yang cukup mengkhawatirkan. Seolah-olah semua persoalan bisa diselesaikan dengan jalan kekerasan, sedikit-sedikit main pukul, main hakim sendiri, kroyokan dan tindakan “sok jagoan” lainnya.
Bahkan kekerasan berlatar agama pun terjadi di negeri yang pluralisme ini. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kekerasan merupakan sesuatu yang wajar dilakukan di Indonesia.

Menurut Wignyosoebroto pengertian kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau yang tengah dipandang berada dalam keadaan lebih lemah).

Anarkisme atas dasar agama
Baru-baru ini kekerasan yang mengatasnamakan agama dan suku genjar terjadi di Indonesia. Ormas-ormas yang merasa diri mereka paling benar melakukan aksi main hakim sendiri. Akibatnya masyarakat banyak mengeluhkan ormas keagamaan yang brutal dalam menegakkan keyakinannya. Aksi anarkis salah satu ormas yaitu FPI (Forum Pembela Islam)  yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik yaitu penentangan terhadap kedatangan Lady Gaga. Mereka tidak akan tinggal diam jika konser tetap diadakan. Ormas tersebut menolak konser Lady Gaga karena syair lagunya, penampilannya yang seronok dan dinilai membawa aliran setan. Mereka menilai Lady Gaga tidak sesuai dengan norma agama mereka. Tetapi jika kita telaah, apakah penyanyi-penyanyi dangdut Indonesia menggunakan pakaian yang tidak seronok saat manggung? Dan apakah mungkin, jika kita menonton konser Lady Gaga yang hanya satu hari mampu membuat kita bertindak seperti setan?

Aksi anarkis lainnya yang dilakukan ormas-ormas yang mengatasnamakan agama yaitu pembubaran secara paksa diskusi buku yang dilakukan oleh Irshad Manji di Salihara. Aksi anarkis mereka mengakibatkan kerusakan fasilitas yang terdapat di gedung Salihara. Tidak hanya itu, mereka juga menyerang dan melukai sejumlah anggota diskusi. Alasan mereka berunjuk rasa yang berakibat tindakan anarkis yaitu karena mereka menilai buku Allah, Liberty and Love yang ditulis oleh Irsyad Manji berisi pengajaran tentang percintaan antarsesama jenis kelamin.

Jika diingat-ingat lagi, banyak sekali aksi anarkis lainnya yang dilakukan ormas-ormas tersebut. Penyerangan  jamaah Ahmadiyah di cikeusik,  massa FPI memukul Aktivis Perdamaian SEJUK (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) di HKBP Filadelfia Bekasi, puluhan anggota ormas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mengeroyok seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo. Padahal saat itu Bramantyo hendak menggelar pertunjukkan seni sebagai bentuk keprihatinan terhadap radikalisme, anarkisme, intimidasi dan kekerasan atas dasar agama. Dan masih banyak aksi anarkis lainnya.Polda Metro Jaya mencatat, dalam 1,5 tahun terakhir paling tidak ada 12 kasus kekerasan atau perusakan yang melibatkan anggota atau simpatisan ormas FPI, PBR dan PP.

Dari begitu banyaknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama atau suku menimbulkan kesan pembiaran oleh pemerintah. Pemerintah seolah-olah takut dan nurut kepada ormas-ormas tersebut. Polisi yang seharusnya mengamankan aksi anarkis, tetapi malah seolah-olah menyetujui aksi pembubaran atau penyerangan tersebut. Pemerintah dinilai lemah terhadap kelompok tersebut.

Memotong tindakan anarkis
Tindakan anarkis yang terjadi di negeri ini dapat dipotong sampai keakar-akarnya. Ada cara lain selain tindakan anarkis untuk menyelesaikan suatu masalah. Masalah tempat ibadah, masalah cikeusik, masalah Irshad Manji dan Lady Gaga dapat diselesaikan dengan jalur diskusi. Jalur dikusi dapat membuka pikiran-pikiran kita sehingga penyelesaiaan bisa didapatkan tanpa merugikan siapa pun. Penyelesaiaan dengan cara baik-baik akan terlihat lebih indah daripada dengan tindakan anarkis. Apapun alasannya, segala bentuk tindak kekerasan dan anarkisme yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu, tidak bisa dibenarkan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan adanya kekerasan terhadap kelompok yang lain. Negara tidak boleh kalah dalam menghadapi aksi-aksi anarkisme. Untuk pemerintah sendiri juga harus bersikap tegas dan tidak boleh ragu dalam menghadapi pelaku anarkis. Dan sebaiknya perdamaian harus terus digalangkan agar kekerasan bukan lagi sesuatu yang wajar di negeri ini.

0 komentar: