Rabu, 13 Juni 2012

Soft News



Mengajar, Cara Melunasi Salah Satu Janji Kemerdekaan

D’Jago Data – Depok, Salah satu bunyi janji kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.  Janji kemerdekaan adalah janji masyarakat Indonesia. Janji itu hingga kini belum bisa diwujudkan secara sempurna. Kita sebagai penggenyam pendidikan dapat memenuhi salah satu janji kemerdekaan tersebut dengan membagikan ilmu yang sudah kita miliki kepada mereka yang membutuhkan ilmu tersebut.

 Ada sebagian masyarakat Indonesia yang terlunasi janji kemerdekaan-nya. Dengan pendidikan yang mereka raih, mereka dapat mencapai kehidupan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarganya. Tetapi, tidak sedikit saudara kita yang masih menunggu lunasnya janji itu. Mereka belum mendapat pendidikan yang layak serta kehidupan ekonomi dan sosialnya belum terangkat.

Kita meyakini bahwa pendidikan adalah satu gerakan bangsa dan bukan semata tugas pemerintah. Bagi mereka yang sudah terlunasi janji kemerdekaan-nya yaitu mereka yang sudah merasakan dan  mendapatkan manfaat dari pendidikan seharusnya mau membagikan ilmu yang mereka dapat kepada mereka yang masih menunggu lunasnya janji itu. Sepatutnya kita menjadi bagian dari pelunasan janji tersebut.

Contoh lembaga yang menjadi bagian dalam melunasi janji tersebut adalah Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar menempatkan sarjana-sarjana terbaik di pelosok negeri. Kehadiran mereka adalah untuk mengajar, mendidik, menginspirasi dan menjadi jembatan bagi masyarakat desa-desa terpencil dengan pusat-pusat kemajuan. Para pengajar muda (guru-guru tersebut) harus bekerja di sekolah dasar di tiap-tiap pelosok negeri dan tinggal di rumah penduduk bersama keluarga baru mereka.

Jika hal tersebut terlalu sulit untuk dilakukan, tetapi ingin menjadi bagian dari pelunas janji, kita bisa mencobanya dengan hal yang lebih sederhana. Kita bisa menggikuti kegiatan mengajar dalam cangkupan yang lebih kecil. Salah satu contoh nyatanya adalah Ansos. Ansos (Anjangsana Sosial) adalah salah satu UKM (Unit Kegiatan Sosial) di salah satu Perguruan Tinggi di Depok. Kegiatan Ansos lebih perpusat pada belajar mengajar. 

            Ada banyak suka dan duka menjadi pengajar. “Sukanya anak-anak di sana pintar-pintar walaupun bandel saya tetap senang mengajar di sana. Sedangkan dukanya adalah jika ada murid yang bandel dan tidak mau belajar. Cara saya untuk mengatasi anak tersebut adalah dengan memberikan waktu sebentar untuk anak itu bermain setelah itu belajar lagi,” cerita Lina, salah satu pengajar Ansos.

“Untuk terlibat dalam kegiatan sosial ada banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu dan tenaga adalah hal yang harus dikorbankan,” ujar Niken, pengajar Ansos. Meskipun banyak hal yang dikorbakan ia tetap ingin terlibat dalam kegiatan ini karena sebagai anak muda ia ingin menggunakan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat.

Kegiatan Ansos murni kegiatan sosial. Tidak ada satu pun pengajar yang memperoleh gaji. Status mereka masih mahasiswa, waktu serta tenaga terkuras dan tidak memperoleh gaji/upah, tetapi mereka tetap melakukan kegiatan mengajar tersebut dengan sukarela. Menurut Lina, ia tetap terlibat dalam kegiatan ini karena ia sangat mencintai anak-anak dan menyukai kegiatan mengajar. Selama kita mampu kenapa tidak kita gunakan waktu kita untuk hal yang positif. (SA)







 

0 komentar: