Selasa, 12 Juni 2012

Karya Tulis Pertama

Layak kah Disebut Perpus Pusat???

 Kompas – Depok Johanna Jesslyn, mahasiswi Akuntansi 2011 mengeluhkan kurangnya fasilitas yang ada di perpus pusat. Komputer yang kurang dan buku yang tidak up to date. 

Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) tidak hanya memiliki perpustakaan di tiap-tiap jurusan, tetapi juga memiliki perpustakaan pusat di lantai 2 Gedung Serba Guna (GSG). Perpustakaan pusat ini bisa disebut dengan perpus GSG. Perpus GSG ini biasa digunakan mahasiswa PNJ untuk duduk-duduk sambil mengerjakan tugas, belajar dan juga untuk mengisi waktu saat tidak ada dosen di kelas. Tiap harinya ada sekitar 250 mahasiswa yang datang ke perpus GSG ini.

Banyak pengunjung yang mengeluhkan fasilitas yang disediakan perpus pusat ini. Salah satunya Johanna Jesslyn mahasiswi Akuntansi 2011. Ia mengeluh karena komputer yang disediakan tidak mencukupi dan buku-buku yang tidak up to date. Buku-buku di perpus ini tidak memenuhi kebutuhan mahasiswa, Debora Silvia mahasiswi Administrasi Bisnis mengatakan, ”Kayanya ga begitu memenuhi soalnya aku pernah nyari buku Kesekretariatan, tapi tidak ada di perpus ini, jadi aku nyari di perpus Administrasi Niaga. Padahal perpus pusat, tapi kok tidak lengkap ya buku-bukunya.” Ia pun juga berharap agar perpus GSG ini diperluas karena ini kan perpus pusat yang tidak hanya digunakan anak TGP saja, AN saja atau Mesin saja, tetapi digunakan semua mahasiswa dari berbagai jurusan. Jadi perlu diperluas dan diperbanyak buku-bukunya agar bisa memenuhi kebutuhan seluruh mahasiswa dari berbagai jurusan.

 Pengolah perpus pun mengakui bahwa buku-buku di perpus ini tidak memenuhi kebutuhan mahasiswa. Banyak kekurangan di mata kuliah penunjang khususnya untuk jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Menurut pengelolah perpus, masalah ini diakibatkan kurangnya kerjasama antara dosen dengan pengolah perpustakaan. “Kita pernah menanyai buku apa yang dipakai dosen dalam mengajar, tetapi sepertinya mereka tidak mau rahasia mereka terbongkar. Kita pun tidak ada referensi, jadi akhirnya ya kita nebak-nebak saja,” ujar pengelolah perpustakaan. Untuk masalah buku yang tidak up to date, pengolah perpus pun kembali mengakuinya. Mereka membeli buku bukan tiap bulan, tetapi setahun sekali dikarenakan mahalnya biaya untuk pembelian buku. Oleh karena itu buku-buku disini out of date.

0 komentar: